Praktikum
ke 3 (kelompok 9)
ANALISIS
DAMPAK KEPENDUDUKAN TERHADAP KONDISI SOSIAL EKONOMI
Universitas
Pattimura
Falkultas
Pertanian
Agribisnis
AMBON
2014
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 latar belakang
Penduduk adalah semua
orang yang menempati hukum wilayah tertentu dan waktu tertentu. Pada dasarnya
penduduk Indonesia khususnya di wilayah bagian timur memiliki berbagai
permasalahan seperti yang akan kita bahas bersama dalam menganalis seperti
tingkat penganguran, Gizi buruk , ketimpangan antara penduduk kota dan pedesaan
dan berbagai dampak permasalahan yang telah terjadi di wilayah perkotaan.
Adanya jumlah penduduk yang besar dan peningkatan angka kemiskinan yang cukup
tinggi akan memicu adanya masalah kependudukan dari berbagai aspek baik dari
kesehatan, pendidikan , sosial budaya ,ekonomi dan lain sebagainya.
I.2 Rumusan masalah
1. Bagaimana masalah
kependudukan di Indonesia saat ini ?
2. mengapa terjadi
masalah kependudukan tersebut ?
3. factor- factor apa
saja yang menyebabkan masalah kependudukan saat ni ?
I.3 Tujuan
1. menganalisis dan
mengkaitkan masalah kependudukan di Indonesia khususnya di kawasan timur
Indonesia (Maluku).
2. menganalisis
penyebab masalah kependudukan tersebut.
ANALISIS DAMPAK
KEPENDUDUKAN TERHADAP KONDISI SOSIAL EKONOMI

no
|
inventarisir
|
Isu
strategis
|
Situasi
saat ini
|
Kebijakan
yang telah ada
|
Strategi
|
1
|
Terus
meningkatnya tingkat pengangguran dan kriminalitas di perkotaan
|
Banyaknya
daerah tertinggal di kawasan timur Indonesia, khususnya daerah pedesaan.
|
Ketimpangan
antara penduduk kota dan desa menyebabkan urbanisasi untuk mencari
pekerjaan/pendapatan yang lebih baik.
Menumpuknya
penduduk pada sentra ekonomi karena adanya gap belum sinergisnya kebijakan
pemerintah pusat dan pemda (prov & kab/kot).
Tingkat
penganguran yang tinggi.
Persebaran
penduduk yang tidak merata.
|
Program
percepatan pembangunan daerah tertinggal
Inpres
No.01 tahun 2001 tentang prioritas pembangunan nasional
Program
KEN (koridor ekonomi nasional) dan konektivitas domestic untuk mendorong
pemerataan infrastuktur
PNPM
dan KUR untuk mendorong kewirausahaan dan menciptakan lapangan kerja
Infrastuktur
untuk wilayah Indonesia timur .
Peningkatan
kapasitas kontol dan monev anggaran
Peningkatan
mutu pelayanan daerah
|
Peningkatan
alokasi anggaran
|
ü Inventarisis dampak
Ambon
- Kepala Dinas Tenaga Kerja
(Disnaker) Kota Ambon, Rudy Wattilete mengaku, angka partisipasi angkatan kerja
di Kota Ambon setiap tahunnya mengalami peningkatan, sehingga berdampak pada
angka pengangguran, yang mulai mengalami penurunan di tahun 2010 bila
dibandingkan dengan tahun 2009 kemarin.
"Berdasarkan
data angkatan kerja menurut golongan umur dari tahun 2005-2009, angkatan kerja
di Ibu Kota Provinsi Maluku ini mengalami peningkatan yang cukup
signifikan," jelas Wattilette kepada wartawan, di ruang kerjanya, Rabu
(1/12).
Dijelaskan,
pada tahun 2005, jumlah angkatan kerja berjumlah 86.189 orang, naik menjadi
92.472 orang di tahun 2006. Di tahun 2007 meningkat drastis menjadi 98.241
orang dan untuk tahun 2008 naik lagi menjadi 104.163 orang, sementara tahun
2009 jumlah angkatan kerja di Kota Ambon meningkat lagi menjadi 110.287 orang.
Guna
menurunkan angka pengangguran di Kota Ambon, kata Wattilete, pihaknya terus
melakukan berbagai program, di antaranya pelatihan untuk menciptakan lapangan
usaha, seperti keterampilan dan pengolahan lahan pertanian. Perbandingan angka
pengangguran di Kota Ambon sejak dua tahun terakhir ini mengalami penurunan
yang cukup signifikan. Hal ini menandakan kesempatan kerja di Kota Ambon yang
merupakan ibukota Provinsi Maluku semakin membaik.
"Angka
pengangguran di Kota Ambon tahun 2010 ini sebanyak 27.004 orang, sementara di
tahun 2009 sebanyak 28.306 orang atau turun sebanyak 1.300 orang.
Diakuinya, turunnya angka pengangguran tersebut disebabkan karena semakin terbukanya lapangan kerja di Kota Ambon, baik di sektor swasta maupun instansi pemerintah," ungkapnya.
Diakuinya, turunnya angka pengangguran tersebut disebabkan karena semakin terbukanya lapangan kerja di Kota Ambon, baik di sektor swasta maupun instansi pemerintah," ungkapnya.
Dia
menambahkan, jumlah pengangguran di Kota Ambon tahun 2010 berdasarkan jenis
pendidikan, yakni tingkat pendidikan strata satu atau sarjana sebanyak 5.873
orang, Diploma I-III (D-I, D-II,D-III)
Kita
dapat melihat sumber dari meningkatnya
penganguran berdampak hingga pada kriminalitas di kota ambon. Berkaitan dengan
itu banyaknya daerah tertinggal di
kawasan timur Indonesia seperti papua juga merupakan salah satu daerah
tertinggal khususnya di pegunungan pada desa-desa kecil yang terpencil sehingga
ada ketimpangan antara penduduk kota dan desa menyebabkan urbanisasi untuk
mencari pekerjaan/pendapatan yang lebih baik kita dapat melihat kondisi kita
saat ini di Maluku bagaimana masyarakat dari pedesaan yang datang ke kota ambon
untuk mencari pekerjaan namun karena peryaratan yang belum terpenuhi membuat
masyarakat dari pedesaan menumpuk di daerah perkotaan dan menjadi penganguran
karena belum mendapat pekerjaan.
ü
Isu strategis
Kemiskinan dan pengangguran merupakan isu yang sangat berkaitan
langsung dengan kesejahteraan rakyat. Keduanya berkaitan dengan minimnya atau
bahkan ketiadaan pendapatan untuk menopang hidup sehari-hari. Dua isu itu,
dengan demikian, acapkali terkait satu sama lain. Pengangguran merupakan salah
satu penyulut bagi lahirnya dan merebaknya angka kemiskinan. Karena itu,
penangguran merupakan rintangan terbesar bagi upaya untuk mengatasi masalah
kemiskinan.Sebaliknya, kemiskinan juga menjadi salah satu pendorong lahirnya
pengangguran. Kemiskinan merupakan penghalang seseorang untuk memperoleh
pendidikan yang berkualitas. Ketiadaan pendidikan yang berkualitas merupakan
sumber penting bagi pengangguran. Mengingat seseorang tidak memiliki kualitas
SDM yang memadai, dia tidak bisa berkompetisi ketika harus bersaing di pasar
kerja.
Berkaitan dengan meningkatnya tingkat pengangguran di
perkotaan dapat menyebabkan marak teradinya kriminalitas seperti pencopetan
,mengapa hal tersebut dapat terjadi seperti yang telah kita lihat dari sumber
bahwa tingginya tingkat pengangguran namun sangat beruntung karena adanya
penurunan angka pengangguran di kota ambon.
ü
Situasi saat ini
Melihat
berbagai penyebab urbanisasi, bagi setiap orang mungkin akan berbeda pemahaman,
tergantung dari kacamata mana orang mencerna. Akan tetapi dari semua penyebab
yang ada, baik faktor pendorong maupun penarik tentunya muaranya adalah satu
yakni faktor ekonomi. Motif utama dari perilaku urbanisasi adalah untuk
mempertahankan hidup baik dalam konteks ekonomi, sosial, politik, maupun
budaya. Ketika lapangan pekerjaan di desa tidak tersedia, sementara tuntutan
ekonomi keluarga harus dicukupi, maka merantau wajib hukumnya. Maraknya
fenomena urbanisasi yang terjadi di Indonesia merupakan refleksi kegagalan
pengembangan sektor ekonomi desa.
Menyikapi
masalah urbanisasi yang terjadi, negara harus memperlakukan seluruh daerah
dengan adil, tidak ada ketimpangan baik dari segi pembangunan, anggaran,
pendapatan, dll. Dengan adanya kesamaan dalam kemajuan tingkat pembangunan,
membuat setiap daerah mempunyai daya saing dan berlomba memajukan daerahnya.
Hal
yang penting untuk dikaji adalah bagaimana memanfaatkan urbanisasi sebagai alat
pembangunan nasional, tidak memandang urbanisasi dari sisi negatif saja
khususnya di desa. Urbanisasi memiliki dua sisi. Urbanisasi dapat membawa
marjinalisasi, kekerasan dan perumahan dibawah standar bagi kelompok miskin,
namun pada saat yang sama memberikan kesempatan untuk berkembang dan lebih maju
paling tidak dengan meningkatnya tingkat kesejahteraan penduduk desa yang
berurbanisasi ke kota. Banyak orang desa yang telah berhasil di kota, dan di
antara mereka ada yang mengirimkan sebagian dari penghasilannya ke desa untuk
inventasi maupun untuk membangun desanya sehingga bisa meningkatkan pertumbuhan
ekonomi desa. Hal ini berarti urbanisasi dapat membawa dampak positif
bagi pembangunan desa, paling tidak dalam pemenuhan kebutuhan dasar di
pedesaan.
ü
Kebijakan yang telah ada
Percepatan Pembangunan Daerah
Tertinggal dan Khusus (P2DTK), adalah
sebuah program uji coba inovatif yang dirintis oleh Pemerintah Indonesia pada
bulan Agustus 2005 dan dirancang untuk mengatasi permasalahan pemerintahan dan
kebijakan di 51 kabupaten termiskin di seluruh Indonesia. P2DTK didasarkan pada
sejumlah proyek pengembangan masyarakat lain yang telah sukses, seperti Program
Pengembangan Kecamatan (PPK/KDP), untuk menyelaraskan prosedur perencanaan
secara bottom-up dengan pemerintah kabupaten yang baru saja diberdayakan.
Program ini beroperasi di 51 kabupaten dan 186 kecamatan di sepuluh provinsi: Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Lampung, Maluku, Maluku Utara, Aceh, Sulawesi Tengah, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Program ini beroperasi di 51 kabupaten dan 186 kecamatan di sepuluh provinsi: Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Lampung, Maluku, Maluku Utara, Aceh, Sulawesi Tengah, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
INSTRUKSI
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
TAHUN
2010 TENTANG
PERCEPATAN
PELAKSANAAN PRIORITAS PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2010
tercantum dalam
Lampiran Instruksi Presiden ini, yang
meliputi
program:
1. Reformasi
birokrasi dan tata kelola;
2. Pendidikan;
3. Kesehatan;
4.
Penanggulangan kemiskinan;
5. Ketahanan
pangan;
6. Infrastruktur
7. Iklim
investasi dan iklim usaha;
8. Energi;
9. Lingkungan
hidup dan pengelolaan bencana;
10. Daerah
tertinggal, terdepan, terluar dan pascakonflik;
11. Kebudayaan,
kreativitas, dan inovasi teknologi;
12. Prioritas
lainnya di bidang politik, hukum dan keamanan;
13. Prioritas
lainnya di bidang perekonomian;
14. Prioritas
lainnya di bidang kesejahteraan rakyat.
ü
Strategi
Peningkatan anggaran infrastuktur untuk wilayah timur
Indonesia
- terlatih membantu penduduk desa dalam proses perencanaan partisipatif, membantu mereka mengidentifikasi masalah dan menghasilkan solusi setempat.
- Masyarakat kemudian menyerahkan proposal ide mereka kepada tim peninjau teknis sebagai bahan pertimbangan baik sebagai proyek kabupaten maupun kecamatan.
- Tim yang relevan kemudian meninjau dan menyerahkan proposal tersebut ke Forum Prioritas Masyarakat, yang merupakan perwakilan seluruh desa di kabupaten/kecamatan, dan 6 orang dari tiap desa memiliki hak suara yang sama dalam memilih proyek untuk menerima hibah dengan rata-rata sebesar USD 50.000 per proyek, dan juga memilih anggota masyarakat untuk membentuk tim manajemen (TPK) yang akan mengawasi seluruh proyek.
- Berbagai proyek tersebut akan dikelompokkan berdasarkan sektor, dan dinas setempat akan bermitra dengan tim manajemen, atau mengadakan kontrak dengan pihak ketiga untuk implementasi proyek.
Maluku
ditetapkan sebagai provinsi
termiskin ketiga di Indonesia oleh Badan Pusat Statisitik (BPS) tahun 2010 lalu,
menjadi sebuah fakta yang tak bisa disangkali. Apalagi, berdasarkan data yang
dimiliki Kementerian Percepatan Daerah Tertinggal (PDT), menyebutkan semua
kabupaten/kota di Maluku merupakan daerah tertinggal, kecuali Kota Ambon.
Kondisi
memprihatinkan ini dipaparkan Sekretaris Kementerian PDT, Lucky Harry Korah
saat berbicara di depan peserta Seminar Nasional Kepulauan bertajuk "Penguatan
Percepatan Pembangunan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) Berbasis Kepulauan"
di kampus Universitas Darussalam, Tulehu, Sabtu (29/1) lalu.
Kementerian
PDT menggunakan enam kriteria dasar, yakni perekonomian masyarakat, sumber
daya manusia, infrastruktur, kemampuan keuangan lokal, aksesibilitas dan
karakteristik daerah untuk menentukan daerah tertinggal.
Kementerian
PDT telah menyiapkan program pemberdayaan masyarakat dan percepatan
pembangunan infrastruktur hingga tahun 2014 untuk membebaskan 50 kabupaten
dari status daerah tertinggal, termasuk di dalamnya kabupaten/kota di Maluku.
Wakil
Ketua DPR RI, Priyo Budi Santoso mengatakan, dengan kondisi banyaknya
kabupaten yang masih tertinggal termasuk di Maluku, maka di tahun-tahun
mendatang harus dialokasikan anggaran yang cukup untuk membangun
daerah-daerah yang tertinggal tersebut.
Alokasi
anggaran tersebut harus benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat
dala rangka upaya percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan
masyarakat.
Penetapan
Maluku sebagai provinsi termiskin ketiga oleh pihak BPS beberapa waktu lalu,
sempat mendapat reaksi keras dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku.
Pemprov Maluku keberatan dengan peringkat ketiga termiskin. Bukan hanya
pemprov, para wakil rakyat di DPRD Maluku juga kebakaran jenggot. Pihak BPS
pun dipanggil untuk menjelaskan mengapa Maluku berada di peringkat ketiga
termiskin. Padahal, pemprov dan para wakil rakyat lupa, kalau BPS itu lembaga
resmi negara, bukan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau Organisasi
Kemasyarakatan Pemuda (OKP) yang mungkin saja diragukan keakuratan
kriteria-kriteria yang digunakan dan proses pengkajian yang dilakukan.
Mungkin
saja, pemprov dan para wakil rakyat hanya melihat di depan mata, lalu
menjadikan Kota Ambon sebagai barometer untuk mengukur kemajuan pembangunan
di Maluku. Tanpa melihat, bagaimana kondisi masyarakat di Seram Bagian Barat
(SBB), masyarakat di Maluku Tenggara Barat (MTB), masyarakat di Kabupaten
Kepulauan Aru, dan di masyarakat kabupaten/kota lainnya.
Tersajikannya
data dari Kementerian PDT, yang menyebutkan seluruh kabupaten/kota di Maluku
tertinggal, diharapkan tak lagi menjadi materi untuk dipolemikkan. Yang mesti
dipikirkan adalah bagaimana merancang program-program pembangunan yang bisa
membebaskan Maluku dari ketertinggalan dan kemiskinan. Jangan hanya terfokus
pada program pembangunan fisik semata, sementara program pemberdayaan
terabaikan.
Pemerataan
dalam pembangunan juga perlu dipikirkan. Sebab, sering Kota Ambon menjadi
fokus pembangunan, sementara kabupaten/kota lainnya diabaikan.
Jika
nantinya program pemberdayaan masyarakat dan percepatan pembangunan
infrastruktur di Maluku dari Kementerian PDT berjalan, diharapkan hal ini
bisa diamankan oleh seluruh petinggi maupun aparatur pemerintahan di daerah
ini. Jangan sampai, ketika program berjalan, dan anggaran dicairkan, justru
kantong-kantong pribadi juga ke bagian.
|
Pengangguran Dan Kemiskinan Meningkat Di Kota Ambon |
Ambon - Walikota Ambon, MJ
Papilaja mengatakan, tingginya angka pengangguran dan kemiskinan yang semakin
meningkat di Kota Ambon, dikarenakan dampak dari arus urbanisasi.
"Urbanisasi juga berdampak pada tinggingya
jumlah penduduk Kota Ambon yang saat ini telah mencapai 330 ribu jiwa,"
tandas Papilaja dalam sambutannya saat melantik pejabat eselon II, III dan IV
dijajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon di Balai Kota, Jumat (5/2).
Dikatakan, pengangguran di Kota Ambon lebih
didominasi oleh pengangguran terdidik yang merupakan sarjana-sarjana yang
berasal dari kabupaten/kota se-Maluku yang menuntut ilmu pada 11 perguruan
tinggi yang ada di kota ini, namun setelah kuliah mereka enggan untuk kembali
ke kampung halaman mereka dalam rangka mengaktualisasikan ilmu yang didapati
pada perguruan tinggi.
Sementara kepadatan penduduk bukan disebabkan
oleh angka kelahiran yang tinggi, namun disebabkan oleh arus urbanisasi,
dimana Kota Ambon dijadikan sebagain tujuan pendidikan dan aktivitas ekonomi.
Untuk mengatasi penggangguran dan kemiskinan,
kata Papilaja bukan hanya diberikan tanggung jawab kepada pemkot semata,
namun dibutuhkan penanganan dari kabupaten lain di Maluku dengan menciptakan
sentra-sentra ekonomi baru, karena manusia-manusia yang menggangur di Kota
Ambon merupakan orang-orang berasal dari kabupaten lain di Maluku.
"Banyak manusia-manusia yang menjadikan
Ambon sebagai tujuan pendidikan, namun setelah selesai pendidikan mereka
tetap tinggal di Ambon dan menjadi pengangguran terdidik yang sedemikian besar.
Ini tidak bisa diserahkan kepada pemkot untuk menyelesaikannya, sebab ini
bagian dari permasalahan dari kabupaten lain di Maluku," ujar Walikota.
Dijelaskan, dampak dari kepadatan penduduk di
mana penyebaran penduduk yang tidak merata, di mana Kecamatan Baguala dan
Sirimau menjadi kawasan yang padat penduduk, sementara penyebaran penduduk di
Kecamatan Teluk Ambon terlihat jarang.
Tingginya jumlah penduduk Kota Ambon juga
berdampak pada pada berubahnya fungsi kawasan, di mana kawasan konservasi air
telah berubah fungsi menjadi kawasan pemukiman.
|
Jumlah penduduk yang besar dan
pertumbuhan penduduk yangtinggi tiap tahunnya.
Masih rendahnya penguasaan teknologi
oleh penduduk sehingga pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam kurang
optimal.Oleh karena itu dalam upaya untuk menaikkan pendapatan
perkapita, pemerintah melakukan usaha, antara lain:a.
Meningkatkan pengolahan dan
pengelolaan sumber daya alam yangada.
Meningkatkan kemampuan bidang
teknologi agar mampu mengolahsendiri sumber daya alam yang dimiliki bangsa
Indonesia.
Memperkecil pertambahan penduduk
diantaranya dengan penggalakan program KB dan peningkatan pendidikan.
Memperbanyak hasil produksi baik
produksi pertanian, pertambangan, perindustrian, perdagangan maupun
fasilitas jasa(pelayanan)
Memperluas lapangan kerja agar
jumlah pengangguran tiap tahunselalu berkurang.
AMBON Tribun-Maluku.Com- Provinsi Maluku
memiliki luas wilayah 581.376 km, luas daratan 54,185 km atau 9,32% ,
luas lautan 527,171 km atau 90,68 % jumlah pulau 1.241 jumlah Kabupaten/Kota
11, jumlah Kecamatan 99, jumlah Desa/Kelurahan 1.053, jumlah PLKB/PKB 200 rasio
PLKB/PKB banding Desa 5,26 jumlah penduduk 1.533.506, UKP 21 tahun.
Dalam RPJMN 2010-2014 bahwa sasaran strategi akhir 2014 secara nasional yang merupakan indikator untuk diraih adalah; CPR 65%, TFR 2,1 , Unmet Need 5%, LPP 1,1 sedangkan hasil capaian Maluku CPR 31,4 (SDKI 2007) naik menjadi 45,5 (SDKI 2012), TFR 3,9 (SDKI 2007) turun menjadi 3,2 (SDKI 2012), Unmet Need 22,4 (SDKI 2007) turun menjadi 14,5 (SDKI 2012) LPP 2,78 (SP 2010).
Meskipun nampak keberhasilannya namun masih jauh dari capaian rata-rata nasional yakni CPR 57,9 , TFR 2,6 Unmet Need 9,8 dan LPP 1,49.
Demikian sambutan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku Drs. Djufry Assegaff pada acara Pelatihan Rencana Strategis dan Advokasi Terapan Bagi Pengelola Program KKB Kabupaten/Kota Tahun 2014 bertempat di hotel the Natsepa Ambon Senin (8/9/2014).
Menurut Assegaff, berbagai kendala dan tantangan yang dihadapi untuk mencapai sasaran tersebut yang paling dominan adalah faktor Geografis dan Iklim, dimana pada bulan April hingga Agustus adalah masa yang sangat kritis karena dipengaruhi oleh musim timur dengan ketinggian gelombang dapat mencapai 3-6 meter.
Faktor geografis dan iklim di Maluku mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap tingginya Unmet Need serta pemakaian alat kontrasepsi yang tidak merata terutama pada wilayah kepulauan, terpencil dan yang sulit dijangkau, sehingga mengakibatkan tingginya TFR, rendahnya CPR dan tingginya Unmet Need disamping faktor-faktor penyebab lainnya, namun penyebab utamanya adalah letak geografis yang sulit dijangkau dan keadaan lautan yang pada musim-musim tertentu sulit untuk dilayari.
Dalam RPJMN 2010-2014 bahwa sasaran strategi akhir 2014 secara nasional yang merupakan indikator untuk diraih adalah; CPR 65%, TFR 2,1 , Unmet Need 5%, LPP 1,1 sedangkan hasil capaian Maluku CPR 31,4 (SDKI 2007) naik menjadi 45,5 (SDKI 2012), TFR 3,9 (SDKI 2007) turun menjadi 3,2 (SDKI 2012), Unmet Need 22,4 (SDKI 2007) turun menjadi 14,5 (SDKI 2012) LPP 2,78 (SP 2010).
Meskipun nampak keberhasilannya namun masih jauh dari capaian rata-rata nasional yakni CPR 57,9 , TFR 2,6 Unmet Need 9,8 dan LPP 1,49.
Demikian sambutan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku Drs. Djufry Assegaff pada acara Pelatihan Rencana Strategis dan Advokasi Terapan Bagi Pengelola Program KKB Kabupaten/Kota Tahun 2014 bertempat di hotel the Natsepa Ambon Senin (8/9/2014).
Menurut Assegaff, berbagai kendala dan tantangan yang dihadapi untuk mencapai sasaran tersebut yang paling dominan adalah faktor Geografis dan Iklim, dimana pada bulan April hingga Agustus adalah masa yang sangat kritis karena dipengaruhi oleh musim timur dengan ketinggian gelombang dapat mencapai 3-6 meter.
Faktor geografis dan iklim di Maluku mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap tingginya Unmet Need serta pemakaian alat kontrasepsi yang tidak merata terutama pada wilayah kepulauan, terpencil dan yang sulit dijangkau, sehingga mengakibatkan tingginya TFR, rendahnya CPR dan tingginya Unmet Need disamping faktor-faktor penyebab lainnya, namun penyebab utamanya adalah letak geografis yang sulit dijangkau dan keadaan lautan yang pada musim-musim tertentu sulit untuk dilayari.
UU no 52 tahun 2010 UNDANG-UNDANG TENTANG PERKEMBANGAN
KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA. Berkaitan dengan pada pasal 1 ayat 5
yaitu Kualitas penduduk adalah kondisi penduduk dalam aspek fisik dan nonfisik
yang meliputi derajat kesehatan, pendidikan, pekerjaan, produktivitas, tingkat
sosial, ketahanan, kemandirian, kecerdasan, sebagai ukuran dasar untuk
mengembangkan kemampuan dan menikmati kehidupan sebagai manusia yang bertakwa,
berbudaya, berkepribadian, berkebangsaan dan hidup layak.
Disini pemerintah berharap adanya kualitas
penduduk yang baik berkaitan dengan PP 38 tahun 2007 Lampiran PP No 38 Tahun
2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan
Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota
Ambon (ANTARA News) - Direktorat
Jenderal (Ditjen) Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU), di Ambon, Kamis
menggelar Sosialisasi Advokasi Hukum kepada karyawan Dinas Pekerjaan Umum (PU)
provinsi Maluku, juga dari kabupaten/kota serta Unit Pelaksana Tugas Daerah
(UPTD) di daerah ini.
Tujuan kegiatan itu untuk meningkatkan pemahaman hukum terkait pelaksanaan tugas, sekaligus mencegah dan melindungi para pejabat di lingkungan Ditjen Bina Marga dalam menghadapi masalah hukum, kata Dirjen Bina Marga Kementerian PU, Djoko Murjanto, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Kepala Balai Jalan Nasional (BJN) Wilayah IX Maluku dan Maluku Utara, Jefri Pattiasina.
Tujuan kegiatan itu untuk meningkatkan pemahaman hukum terkait pelaksanaan tugas, sekaligus mencegah dan melindungi para pejabat di lingkungan Ditjen Bina Marga dalam menghadapi masalah hukum, kata Dirjen Bina Marga Kementerian PU, Djoko Murjanto, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Kepala Balai Jalan Nasional (BJN) Wilayah IX Maluku dan Maluku Utara, Jefri Pattiasina.
No
|
Inventarisir dampak
|
Isu strategis
|
Situasi saat ini
|
Kebijakan yang telah ada
|
Strategi
|
3
|
Gizi buruk
|
Tingkat kemiskinan yang masih tinggi
|
Keluarga miskin memiliki anak yang banyak
Akses pada lapangan kerja yang terbatas
Pendidikan dan ketrampilan yang rendah
Pendapatan dan daya beli yang masih rendah
Anak BBLR tinggi
|
Inisiasi menyusui dini dan pemberian ASI
eksklusif selama 6 bulan
Program JAMKESMAS & JAMPERSAL
Program JAMKESDA
Alkon gratis bagi seluruh PUS
Pembangunan infrastuktur
|
sinergi dan sinkronisasi kebijakan dan program pengangulangan kemiskinan antar K/L (25 K/L) |
.
o
Inventarisir dampak
Ambon (Antara
Maluku) - Wakil Wali Kota Ambon Sam Latuconsina menegaskan tidak ada kasus gizi
buruk di desa Hutumuri.
"Tidak benar. Saya telah meninjau langsung dan hasilnya tidak ditemukan tujuh pasien gizi buruk seperti yang diberitakan media," katanya di Ambon, Rabu.
Dia menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat dan Camat Leitimur Selatan, dan tidak ditemukan pasien gizi buruk.
Data yang diperoleh, hanya ada dua anak yang menderita kurang gizi di desa Leahari akibat kurang perhatian orang tua dan sanitasi lingkungan yang kurang memadai.
Kasus tersebut, lanjutnya, terjadi sejak tahun 2012, yang mana dua orang kakak beradik sempat menjalani rawat inap di Puskesmas Hutumuri, dan sempat dirujuk ke RSUD Haulussy Ambon.
"Dinas Kesehatan (Dinkes) Ambon juga telah memberikan perawatan dan bantuan kepada keluarga, tetapi hingga saat ini kondisi kakak beradik tersebut belum mengalami perubahan kesehatan," katanya.
"Tidak benar. Saya telah meninjau langsung dan hasilnya tidak ditemukan tujuh pasien gizi buruk seperti yang diberitakan media," katanya di Ambon, Rabu.
Dia menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat dan Camat Leitimur Selatan, dan tidak ditemukan pasien gizi buruk.
Data yang diperoleh, hanya ada dua anak yang menderita kurang gizi di desa Leahari akibat kurang perhatian orang tua dan sanitasi lingkungan yang kurang memadai.
Kasus tersebut, lanjutnya, terjadi sejak tahun 2012, yang mana dua orang kakak beradik sempat menjalani rawat inap di Puskesmas Hutumuri, dan sempat dirujuk ke RSUD Haulussy Ambon.
"Dinas Kesehatan (Dinkes) Ambon juga telah memberikan perawatan dan bantuan kepada keluarga, tetapi hingga saat ini kondisi kakak beradik tersebut belum mengalami perubahan kesehatan," katanya.
o
Isu strategi
Maluku Target Turunkan Angka
Kemiskinan 15,4 Persen
Selasa, 2 April 2013 | 7:11
Selasa, 2 April 2013 | 7:11
[AMBON] Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu
mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku menargetkan pada akhir tahun
2013, tingkat kemiskinan di provinsi kepulauan ini bisa diturunkan hingga
menembus angka 15,4 persen, dari tahun sebelumnya 20,76 persen.
“Keberhasilan pembangunan juga ditunjukkan oleh penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran di Provinsi Maluku,” kata Gubernur Maluku di Ambon, Selasa (2/4).
Lebih lanjut Karel menjelaskan, pada tahun 2008 tingkat pengangguran sebesar 10,67 persen telah menurun menjadi 7,51 persen pada tahun 2012.
“Bersamaan dengan itu, tingkat kemiskinan juga cenderung menunjukkan penurunan dari 29,66 persen pada tahun 2008 menjadi 20,76 persen pada tahun 2012. Saya tidak menampik bahwa angka pengangguran dan kemiskinan tersebut masih relatif cukup tinggi,” kata Karel.
Masih banyak desa-desa yang terisolir dengan perumahan dan permukiman yang belum layak huni, terbatasnya infrastruktur kewilayah-wilayah produksi, jangkauan pelayanan kesehatan yang belum prima terutama pada wilayah-wilayah pedalaman, terbatasnya prasarana dan sarana sosial ekonomi serta masih terdapat ketimpangan antar wilayah di Provinsi Maluku.
“Sebab itu, saya ingatkan semua stake holder baik di kabupaten/kota hingga provinsi agar tetap memelihara momentum percepatan pembangunan Maluku yang mulai diraih bersama dengan tujuan semata-mata untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan bukanlah semata – mata milik salah satu golongan, strata atau wilayah tertentu, melainkan harus dilakukan secara inklusif dan berkeadilan sehingga peningkatan kesejahteraan dapat dirasakan oleh seluruh golongan ataupun lapisan masyarakat,” kata Karel.
Karel menilai, pembangunan Provinsi ini hanya akan dapat dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, jika dilakukan dalam konteks realitas geografis kepulauan yang dimiliki tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kehidupan masyarakat Maluku, guna memacu pertumbuhan ekonomi (pro-growth), perluasan kesempatan kerja (pro-job), pengentasan kemiskinan (pro-poor) dan tetap memperhatikan kelestarian dan daya dukung lingkungan (pro-environtment).
“Keberhasilan pembangunan juga ditunjukkan oleh penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran di Provinsi Maluku,” kata Gubernur Maluku di Ambon, Selasa (2/4).
Lebih lanjut Karel menjelaskan, pada tahun 2008 tingkat pengangguran sebesar 10,67 persen telah menurun menjadi 7,51 persen pada tahun 2012.
“Bersamaan dengan itu, tingkat kemiskinan juga cenderung menunjukkan penurunan dari 29,66 persen pada tahun 2008 menjadi 20,76 persen pada tahun 2012. Saya tidak menampik bahwa angka pengangguran dan kemiskinan tersebut masih relatif cukup tinggi,” kata Karel.
Masih banyak desa-desa yang terisolir dengan perumahan dan permukiman yang belum layak huni, terbatasnya infrastruktur kewilayah-wilayah produksi, jangkauan pelayanan kesehatan yang belum prima terutama pada wilayah-wilayah pedalaman, terbatasnya prasarana dan sarana sosial ekonomi serta masih terdapat ketimpangan antar wilayah di Provinsi Maluku.
“Sebab itu, saya ingatkan semua stake holder baik di kabupaten/kota hingga provinsi agar tetap memelihara momentum percepatan pembangunan Maluku yang mulai diraih bersama dengan tujuan semata-mata untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan bukanlah semata – mata milik salah satu golongan, strata atau wilayah tertentu, melainkan harus dilakukan secara inklusif dan berkeadilan sehingga peningkatan kesejahteraan dapat dirasakan oleh seluruh golongan ataupun lapisan masyarakat,” kata Karel.
Karel menilai, pembangunan Provinsi ini hanya akan dapat dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, jika dilakukan dalam konteks realitas geografis kepulauan yang dimiliki tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kehidupan masyarakat Maluku, guna memacu pertumbuhan ekonomi (pro-growth), perluasan kesempatan kerja (pro-job), pengentasan kemiskinan (pro-poor) dan tetap memperhatikan kelestarian dan daya dukung lingkungan (pro-environtment).
Situasi saat ini
Pada
situasi saat ini kita melihat melonjakannya tingkat kelahiran namun tidak
seimbangan dengan perekonomian. Marak terjadinya keluarga yang dikategorikan
miskin atau tidak mempunyai pekerjaan dan memiliki banyak anak dan tidak mampu
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya karena akses lapangan pekerjaan yang sangat
sempit dan juga SDM yang masih minim in merupakan salah satu factor memicu
kemiskinan karena SDM rata-rata lulusan SD juga pendapatan dan daya beli yang
masih rendah,bagaimana mau membeli barang-barang sedangkan untuk memenuhi
kenutuhan sendiri saja tidak mampu dan minimnya pengetahuan masyarakat mengenai
hidup sehat sehingga banyak yang terjangkit virus/penyakit bahkan sampai pada
Gizi buruk ini disebabkan karena ketidaktahuan mereka mengenai takaran
gizi,juga karena perekonomian dan juga factor lainnya dan cara mengatasinya
dengan member gizi yang baik mengkonsumsi makanan yang sehat (sehat 5 sempurna)
maka kesehatan yang baikk akan terwujud.BBLR merupakan masalah kesehatan yang
sering dialami pada sebahagian besar masyarakat yang ditandai dengan berat
lahir yang kurang dari 2500 gram. Kejadian BBLR pada dasarnya berhubungan
dengan kurangnya pemenuhan nutrisi pada masa kehamilan ibu dan hal ini
berhubungan dengan banyak faktor dan lebih utama pada masalah perekonomian
keluarga sehingga pemenuhan kebutuhan konsumsi makanan pun kurang. Namun
kejadian BBLR juga dapat terjadi tidak hanya karena aspek perekonomian, dimana
kejadian BBLR dapat saja terjadi pada mereka dengan status perekonomian yang
cukup. Dan hal ini terkait adanya pengaruh dari berbagai faktor yang pada
penelitian ini mencakup paritas, jarak kelahiran, kadar haemoglobin dan
pemanfaatan pelayanan antenatal.
Kebijakan yang telah ada
Program Jampersal Gratis Meningkat
Ambon - Kepala Dinas Kota Ambon,
Tressje Torry mengungkapkan perlayanan kesehatan melalui Program Layanan
Jaminan Persalinan (Jampersal) secara gratis di Kota Ambon mulai meningkat.
“Peningkatan layanan Jampersal ini terlihat dari
hampir 90 persen ibu melahirkan di Kota Ambon sejak tahun 2011 menggunakan
layanan tenaga medis dibandingkan jasa dukun beranak,” ungkap Torry, kepada
wartawan di ruang kerjanya, Jumat (5/10).
Dijelaskan, program Jampersal merupakan bagian
pelayanan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bagi ibu hamil yang yang akan
melakukan proses persalinan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan akses ibu
hamil guna mendapatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) secara memadai
guna menekan angka kematian.
Program ini juga telah mampu mengatasi
kesenjangan masyarakat dalam mengakses pelayanan kesehatan dengan memberikan
pelayanan persalinan secara gratis, termasuk pelayanan rujukan ke rumah
sakit jika ditemukan persalinan tidak normal.
MALUKUnews, Ambon:
Pembangunan infrastruktur yang dilakukan terus mendukung kemajuan proses
pembangunan di daerah ini. Dinas Pekerjaan Umum turut memajukan Provinsi Maluku
agar setara dengan daerah lain,meskipun anggaran yang terbatas, namun ada
komiitmen bersama yang dijalin baik di instansi Kab/Kota dan stakeholder
terkait.
Sejumlah pembangunan infrastruktur yang
sedang dan telah dibangun antara lain, pembangunan ruas jalan provinsi maupun
kabupaten untuk mendukung Modal Trans Maluku, yakni pembangunan ruas jalan
Nasional sepanjang 166.065 Km, ruas jalan provinsi sepanjang 1.297,04 Km, serta
ruas jalan Kabupaten sepanjang 6.100, 46 Km, sehingga total seluruhnya yakni
8.705,6 km .
Demikian halnya dengan pembangunan
jembatan nasional maupun provinsi sebanyak 147 buah yang dibiayai dari APBN dan
APBD.
Strategi
Untuk strategis
No
|
Inventarisisr dampak
|
Isu strategis
|
Situasi saat ini
|
Kebijakan yang telah ada
|
Strategi
|
4
|
Dominannya peran laki-laki pada sector
pertanian
|
Kesetaraan gender dalam program pembangunan
|
APS (angka partisipasi sekolah ) perempuan
lebih kecil dari APS laki-laki
Partisipasi laki-laki untuk ber-KB masih rendah
Beban ganda perempuan (produksi dan Re-produksi)
Anggapan nilai anak laki-laki lebih diutamakan
|
Inpres No.9 tahun 2000 tentang pengarusutamaan
gender dalam pembangunana nasional dengan KPP & PA sebagai institusi
penjuru
Sosialisasi PUG secara terbatas
|
Advokasi dan sosialisasi pemberdayaan perempuan
dan PUG
Peningkatan partisipasi pria dalam ber-KB
|
v
Inventarisir dampak
Dominannya peran laki-laki pada sector pertanian karena
telah kita ketahui bahwa laki-laki memiliki kekuatan/tenaga yang lebih banyak
di bandingkan dengan perempuan namun tidak menutup kemungkinan perempuan juga
dapat bercocok tanam berkaitan dengan kesetaraan gender dalam pembangunan
perempuan mempunyai peran yang sama dengan laki-laki jadi perempuan berhak
bekerja dalam sector pertanian karena kesetraan gender.pada situasi saat ini
sudah menipis bahwa APS prempuan lebih kecil dibandingkan laki-laki,kita boleh
melihat sekarang banyak wanita-wanita hebat yang berhasil dan menyelesaikan
sekolah tinggi. Karena pada saat ini perempuan tidak hanya sebagai Ibu rumah
tangga selain kodratnya tetati perempuan mempunyai peran yang sama dengan
laki-laki yaitu bersekolah ,mempunyai pekerjaan dan bersekolah yang tinggi.untuk
situasi saat ini memang laki-laki kurang mengunakan KB tetapi kebanyakan
laki-laki hanya menggunakan salah satu alat kontrasepsi sederhana .
Rendahnya Partisipasi Pria Dalam Ber-KB
Partisipasi pria adalah tanggung jawab pria dalam
keterlibatan dankesertaan ber KB dan Kesehatan Reproduksi, serta prilaku
seksual yang sehatdan aman bagi dirinya, pasangannya dan keluarganya (BKKBN,
2000).Bentuk nyata dari partisipasi pria tersebut adalah: sebagai peserta
KB,mendukung dan memutuskan bersama istri dalam penggunaan kontrasepsi,sebagai
motivator KB merencanakan jumlah anak dalam keluarganya(BKKBN,
2003).Berdasarkan pengambilan data peserta aktif pada bulan januari tahun2010
menunjukan bahwa prevelensi KB di Indonesia adalah 75.8 % .Diantaranya akseptor
wanita sebanyak (75.4%) dan akseptor pria sebanyak (1.6%)(BKKBN, 2011)
KESIMPULAN
Tingkat
pengangguran di kota ambon telah menurun karena telah dibukanya kantor-kantor
baru sehingga dapat meningkatkan daya beli masyarakat juga mengurangi tingkat
penganguran yang berdampak negatif
DAFTAR PUSTAKA
http://www.ambon.go.id/sekot-fppi-kota-ambon-dilantik-untuk-wujudkan-kesetaraan-gender/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar